wibiya widget

Diberdayakan oleh Blogger.
SELAMAT DATANG DI BLOG BEMF PSIKOLOGI UMB YOGYAKARTA
RSS

Pengaruh Bahasa terhadap Pikiran - Kajian Hipotesis Benyamin Whorf dan Edward Sapir

“ To give a child an idea of scarlet or orange, of sweet or bitter, I present the objects, or in other words, convey to him these impressions; but proceed not so absurdly, as to endeavor to produce the impressions by exciting the ideas.” (David Hume)
Bahasa adalah medium tanpa batas yang membawa segala sesuatu mampu termuat dalam lapangan pemahaman manusia. Oleh karena itu memahami bahasa akan memungkinkan peneliti untuk memahami bentuk-bentuk pemahaman manusia. Bahasa adalah media manusia berpikir secara abstrak yang memungkinkan objek-objek faktual ditransformasikan menjadi simbol-simbol abstrak. Dengan adanya transformasi ini maka manusia dapat berpikir mengenai tentang sebuah objek, meskipun objek itu tidak terinderakan saat proses berpikir itu dilakukan olehnya (Suriasumantri, 1998).
Ernst Cassier menyebut manusia sebagai animal symbolicum, makhluk yang menggunakan simbol. Secara generik ungkapan ini lebih luas daripada sekedar homo sapiens. Bagi Cassier, Keunikan manusia sebenarnya bukanlah sekedar terletak pada kemampuan berpikirnya melainkan terletak pada kemampuannnya berbahasa. Seorang filosof kenamaan, Gadamer, menyatakan bahwa status manusia tidak dapat melakukan apa-apa tanpa menggunakan bahasa. Dalam satu pernyataannya yang terkenal, secara jelas pula seorang filosof bahasa, Ludwid Van Wittgenstein, mengatakan bahwa batas dunia manusia adalah bahasa mereka (Sumaryono, 1993). Sebuah uraian yang cukup menarik mengenai keterkaitan antara bahasa dan pikir dinyatakan oleh Whorf dan Saphir. Whorf dan Sapir melihat bahwa pikiran manusia ditentukan oleh sistem klasifikasi dari bahasa tertentu yang digunakan manusia (Schlenker, 2004). Menurut hipotesis ini, dunia mental orang Indonesia berbeda dengan dunia mental orang Inggris karena mereka menggunakan bahasa yang berbeda.
Hubungan antara bahasa dan pikiran adalah sebuah tema yang sangat menantang dalam dunia kajian psikologi. Sejarah kajian ini dapat ditilik dari psikolog kognitif, filosof dan ahli linguistik. Hipotesis Whorf dan Sapir menyajikan sesuatu yang sangat menantang untuk ditelaah lebih lanjut. Beberapa aspek bahasan yang mempengaruhi pikiran perlu diidentifikasi lebih lanjut, misalnya identifikasi aspek bahasa yang mempengaruhi penalaran ruang bidang (reasoning spatial) dan aspek bahasa yang mempengaruhi penalaran terhadap pikiran lain (reasoning about other minds).
A. Selintas Konsep Saphir-Whorf tentang Bahasa dan Pikiran
When I think in language, there aren’t ‘meanings’ going through my mind in addition to the verbal expressions: the language is itself the vehicle of thought.” - Ludwig Wittgenstein
Beberapa ahli mencoba memaparkan bentuk hubungan antara bahasa dan pikiran, atau lebih disempitkan lagi, bagaimana bahasa mempengaruhi pikiran manusia. Dari banyak tokoh yang memaparkan hubungan antara bahasa dan pikiran, penulis melihat bahwa paparan Edward Sapir dan Benyamin Whorf yang banyak dikutip oleh berbagai peneliti dalam meneliti hubungan bahasa dan pikiran.
Sapir dan Worf mengatakan bahwa tidak ada dua bahasa yang memiliki kesamaan untuk dipertimbangkan sebagai realitas sosial yang sama. Sapir dan Worf menguraikan dua hipotesis mengenai keterkaitan antara bahasa dan pikiran.
1. Hipotesis pertama adalah lingusitic relativity hypothesis yang menyatakan bahwa perbedaan struktur bahasa secara umum paralel dengan perbedaan kognitif non bahasa (nonlinguistic cognitive). Perbedaan bahasa menyebabkan perbedaan pikiran orang yang menggunakan bahasa tersebut.
2. Hipotesis kedua adalah linguistics determinism yang menyatakan bahwa struktur bahasa mempengaruhi cara inidvidu mempersepsi dan menalar dunia perseptual. Dengan kata lain, struktur kognisi manusia ditentukan oleh kategori dan struktur yang sudah ada dalam bahasa.
Pengaruh bahasa terhadap pikiran dapat terjadi melalui habituasi dan beroperasinya aspek formal bahasa, misalnya gramar dan leksikon. Whorf mengatakan “grammatical and lexical resources of individual languages heavily constrain the conceptual representations available to their speakers”. Gramar dan leksikon dalam sebuah bahasa menjadi penentu representasi konseptual yang ada dalam pengguna bahasa tersebut. Selain habituasi dan aspek formal bahasa, salah satu aspek yang dominan dalam konsep Whorf dan Sapir adalah masalah bahasa mempengaruhi kategorisasi dalam persepsi manusia yang akan menjadi premis dalam berpikir, seperti apa yang dikatakan oleh Whorf berikut ini :


“Kita membelah alam dengan garis yang dibuat oleh bahasa native kita. Kategori dan tipe yang kita isolasi dari dunia fenomena tidak dapat kita temui karena semua fenomena tersebut tertangkap oleh majah tiap observer. Secara kontras, dunia mempresentasikan sebuah kaleidoscopic flux yang penuh impresi yang dikategorikan oleh pikiran kita, dan ini adalah sistem bahasa yang ada di pikiran kita. Kita membelah alam, mengorganisasikannya ke dalam konsep, memilah unsur-unsur yang penting…(Whorf dalam Chandler, 2000)
Bahasa bagi Whorf pemandu realitas sosial dan mengkondisikan pikiran individu tentang sebuah masalah dan proses sosial. Individu tidak hidup dalam dunia objektif, tidak hanya dalam dunia kegiatan sosial seperti yang biasa dipahaminya, tetapi sangat ditentukan oleh simbol-simbol bahasa tertentu yang menjadi medium komunikasi sosial. Tidak ada dua bahasa yang cukup sama untuk mewakili realitas yang sama. Dunia tempat tinggal berbagai masyarakat dinilai oleh Whorf sebagai dunia yang sama akan tetapi dengan karakteristik yang berbeda. Singkat kata, dapat disimpulkan bahwa pandangan manusia tentag dunia dibentuk oleh bahasa sehingga karena bahasa berbeda maka pandangan tentang dunia pun berbeda. Secara selektif individu menyaring sensori yangmasuk seperti yang diprogramkan oleh bahasa yang dipakainya. Dengan begitu, masyarakat yang menggunakan bahasa yang berbeda memiliki perbedaan sensori pula (Rakhmat, 1999).
B. Dukungan terhadap Konsep Saphir-Whorf
“The fact of the matter is that the 'real world' is to a large extent unconsciously built upon the language habits of the group” - Edward Saphir
Hipotesis Sapir dan Worf didukung oleh beberapa temuan penelitian terutama dalam bidang antropologi. Seorang antropologis bernama Lucy menulis mengenai perbedaan bahasa yang berkaitan dengan aktifitas perseptual. Sebagai contoh, dua individu yang memiliki kosa kata tentang warna dasar (basic color) yang berbeda, akan mengurutkan warna sekunder dengan cara yang berbeda. Language relativistics melihat bahwa kategori yang ada dalam bahasa menjadi dasar dari aktifitas mental, seperti kategorisasi, ingatan dan pengambilan keputusan. Jika asumsi ini benar maka studi tentang bahasa mengarah pada perbedaan pikiran yang diakibatkan sistem tersebut. Di samping bahasa merefleksikan perkembangan kognitif, bahasa mempengaruhi akuisisi bahasa dan juga memiliki memberikan potensi pada transformasi kognitif.
Lucy mencoba menengahi pertentangan yang ada dengan memberikan beberapa petunjuk apabila seorang peneliti hendak mengkaji relativitas bahasa. Peneliti harus mengidentifikasi performansi kognitif individu yang beriringan dengan konteks verbal secara eksplisit (explicitly verbal contexts) dan menekankan pada struktur kognitif individu yang dideteksi yang ditunjukkan dalam perilaku keseharian. Melalui pandangan ini secara tidak langsung, Lucy telah melihat bahwa kognisi adalah sekumpulan konsep dan prosedur yang hadir dalam aktifitas individu yang berkaitan dengan perilaku verbal seperti berkata, mendengar dan berpikir secara verbal.
Penggunaan konteks dalam pengkajian bahasa ini mendapat dukungan dari Gumperz dan Levinson, yang melalui tulisannya dengan judul rethinking linguistic relativity mencatat pentingnya theories of use in context yang memuat teori semantik formal yang berkaitan dengan situasi semantik, discourse representation theory dan teori pragmatis yang memuat relevance theory dan gricean theories. Hipotesis Whorf juga didukung oleh Olson (1983) yang melihat bahwa kategori perseptual dan struktur kognitif individu merefleksikan dunia pengalaman. Sebuah peristiwa selalu dipersepsi dan dikategorisasi secara relatif tergantung pada konteksnya.
Berkaitan dengan kata-kata emosi, Levi (1973, dalam Wierzbicka, 1995) melalui studinya di Tahiti menjelaskan bahwa tidak ada kesamaan antara perasaan buruk (bad feelings) dalam pemahaman orang Tahiti dengan kata sedih (sad) dalam kosa kata Bahasa Inggris. Orang Tahiti lebih menonjolkan perasaan mo’emo’e (sebuah perasaan kesepian dan kesendirian) daripada rasa sedih yang oleh kosa kata Inggris dinamakan dengan sad. Levi menambahkan bahwa hal ini tidak menandakan bahwa orang Inggris tidak dapat merasakan mo’emo’e dan juga sebaliknya, orang Tahiti tidak bisa merasakan sad, tetapi menandakan bahwa kedua perasaan itu mempunyai status yang berbeda sehingga tidak dapat diparalelkan. Jika perasaan buruk (bad feeling) bagi orang Inggris adalah sad, maka bagi orang Tahiti adalah mo’emo’e.
Manusia hanya akan dapat berkata dan memahami satu dengan lainnya dalam kata-kata yang terbahasakan. Bahasa yang dipelajari semenjak anak-anak bukanlah bahasa yang netral dalam mengkoding realitas objektif. Bahasa memiliki orientasi yang subjektif dalam menggambarkan dunia pengalaman manusia. Orientasi inilah yang selanjutnya mempengaruhi bagaimana manusia berpikir dan berkata.
Melalui paparan di muka dapat diuraikan beberapa derivasi dari pengaruh bahasa terhadap pikiran manusia. Derivasi tersebut tercermin dari beberapa pernyataan beberapa ahli antara lain :
1. Language creates awareness (Macphail, Dennett)
2. Language creates self-consciousness (Edelman)
3. Language creates structures of thought and symbolic representation (Vygotsky, Tomasello)
4. Language serves as one possible cue for memory (Lucy, Pedersen)
5. Language provides “Thinking for speaking” (Slobin, 2003)

D. Beberapa Keberatan terhadap Konsep Saphir-Whorf
Konsep Sapir dan Whorf mengudang beberapa keberatan di kalangan ahli bahasa dan peneliti psikolinguistik. Dasar yang dipakai sebagai bentuk keberatan tersebut adalah bahwa pikiran yang sama dapat diekspresikan dalam beberapa cara. Manusia dapat mengatakan apa saja yang dimauinya dalam sebuah bahasa sehingga antara satu bahasa dengan bahasa lainnya memiliki karakter yang paralel.
Salah satu fakta yang dipaparkan untuk menunjukkan keberatan ini adalah dalam bidang perkembangan. Beberapa kasus di kehidupan sehari-hari menunjukkan bahwa bayi yang belum memiliki bahasa secara optimal sudah mampu menalar lebih dari hal-hal yang menarik bagi mereka. Misalnya usia 3-4 bulan bayi dapat memahami jarak dan menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan jarak. Usia 5 bulan bayi sudah mampu menalar aritmatika sederhana. Setelah sebelumnya bayi diperlihatkan dua buah objek di tangan, mereka mencoba mencari dua objek tersebut ketika dua objek tersebut disembunyikan.
Bukti kedua yang menunjukkan bahwa manusia dapat berpikir meski tanpa menggunakan bahasa adalah kasus anak-anak tuna rungu yang tidak mampu memahami struktur simbol bahasa. Anak-anak ini dapat menemukan isyarat dan gerak mereka sendiri untuk mengkomunikasikan pikiran dan keinginan mereka. Bukti ketiga adalah kasus penggunaan mental image yang diperagakan oleh beberapa individu. Seniman dalam bidang visual memiliki kemampuan menalar yang dapat disejajarkan dengan penulis ataupun ilmuwan. Francis Cricks dengan berpikir secara visual mampu menemukan struktur double helix DNA, Albert Einstein yang terkenal dengan penalar visual (visual thinker) mampu menelurkan rumus-rumus fisika yang spektakuler.
Kontroversi tentang pendapat Whorf juga diarahkan pada contoh yang dikemukakan, misalnya salju. Orang Eskimo hidup di tengah-tengah salju sehingga mereka memiliki banyak kata tentang salju. Unta sangat penting bagi orang Arab sehingga mereka memiliki banyak cadangan kosa kata dalam menggambarkan unta. Bahasa dikembangkan sesuai dengan tantangan kultural dan tidak benar bahwa manusia tidak dapat membedakan beberapa objek persepsi karena tidak ada kata yang mampu menggambarkannya. Walaupun dalam bahasa ada hanya menggunakan kata ‘dia’ akan tetapi orang Indonesia juga memahami arti ‘he’ dan ’she’ dalam Bahasa Inggris (Rakhmat, 1999).
Manusia dapat berpikir tanpa menggunakan bahasa, tetapi bahasa mempermudah kemampuan belajar dan mengingat, memecakan persoalan dan menarik kesimpulan. Bahasa memungkinkan individu menyandi peristiwa dan objek dalam bentuk kata-kata. Dengan bahasa individu mampu mengabstraksikan pengalamannya dan mengkomunikasikannya pada orang lain karena bahasa merupakan sistem lambang yang tidak terbatas yang mampu mengungkapkan segala pemikiran.
Sementara sebagian besar ilmuwan berpendapat bahwa bahasa adalah objek sosial yang berdiri di atas kesepakatan untuk memudahkan adanya komunikasi, Chomsky (dalam Ludlow, 2000) memiliki konsep yang berbeda. Menurutnya bahasa “a natural object that is part of human biological endowment”. Bahasa adalah objek natural yang merupakan bagian dari kelebihan yang dimiliki manusia. Bahasa bagi Chomsky adalah cerminan dari pikiran dan produk dari kecerdasan manusia. Dengan memahami properti bahasa alami seperti struktur, organisasi, dan tata cara penggunaannya peneliti akan dapat memahami karakteristik manusia secara alami (human nature). Pandangan Chomsky ini selain bertentangan dengan pandangan Skiner mengenai proses akuisisi bahasa pada anak, juga berseberangan dengan konsep Sapir dan Whorf. Dengan adanya hal-hal yang bersifat bawaan maka secara tidak langsung dapat disimpulkan bahwa bahasa tidak memiliki keterkaitan dengan pikiran.
Konsep Paul Kay mengenai bahasa secara tidak langsung juga berseberangan dengan konsep Sapir dan Whorf. Dikatakan olehnya bahwa perbedaan mengekspresikan fenomena dan objek dalam bahasa yang berbeda tidak berarti menunjukkan perbedaan dalam konsep. Untuk memahami relatifitas bahasa, individu menyadari layaknya menterjemahkan bahasa bahwa ada beberapa skema alternatif yang ada di dalam bahasa dan individu pemakai bahasa tersebut. (Jaszczolt, 2001).
Beberapa ahli melihat bahwa language relativistics kurang memiliki dukungan secara ilmiah, karena belum ada penelitian yang membuktikan keterkaitan tersebut (Schlenker, 2004). Menurut Schlenker (2004), manusia tidak secara eksak menggunakan kata-kata dalam berpikir (think in world), karena jika menggunakan manusia berpikir dengan menggunakan kata-kata maka pasien yang memiliki keterbatasan bahasa (language deficits) otomatis akan mengalami hambatan dalam berpikir. Bahasa verbal dan pikiran memiliki perbedaan secara prinsip. Namun demikian ini tidak berarti bahwa pikiran bukan sistem yang memanipulasi simbol dalam bahasa. Sebagai contoh, konsep computational model of the mind memperlihatkan bahwa pikiran dapat dianalogikan dengan komputer yang mampu memanipulasi simbol abstrak.
E. Tinjauan terhadap Konsep Whorf dan Sapir
Hipotesis Whorf dan Sapir tidak dapat dilepaskan dari apa yang diartikan oleh mereka sebagai bahasa. Melalui struktur terkecil dari bahasa yaitu kata-kata akan dapat diketahui bahwa bahasa dapat mempengaruhi pikiran individu. Berikut ini akan dipaparkan beberapa pengertian dari kata yang memungkinkan kata dapat berkaitan dengan pikiran manusia. Pertama, kata sebagai simbol (words as symbols). Kata sebagai simbol berarti kata lebih mewakili suatu objek daripada dirinya sendiri. Hubungan antara kata dan simbol ini dibangun oleh konvensi sosial dalam sebuah budaya. Kedua, kata sebagai atribut objek (words as attribute). Kata dan objek adalah satu bagian yang tidak dapat dipisahkan. Piaget dan Vigotsky melaporkan bahwa penerimaan anak-anak terhadap nama sebuah objek tidak dapat dibedakan lagi. Bagi mereka nama meja atau kursi adalah bagian dari objek meja. Kata dan objek yang diatribusikan adalah satu bagian. Kata meja menjadi milik sebuah meja. Ketiga, kata sebagai objek (words as object). Kata-kata adalah bagian dari dunia manusia. Kata diterima sebagai sesuatu yang dalam dalam pikiran. Ketika individu mendengar sebuah kata terucap, ia akan mereaksi ucapan ini dengan berpikir objek itu ada di dalam dunia nyatanya. Kata-kata adalah bagian dari bahasa yang digunakan oleh manusia untuk menerima, mengolah, serta menyampaikan informasi. Segala sesuatu yang berkaitan dengan manusia selalu menggunakan media bahasa. Manusia tidak mungkin melakukan apa-apa tanpa menggunakan bahasa dalam hal ini direpresentasikan dalam kata-kata (Sumaryono, 1993).
Pikiran, bahasa, dan budaya memiliki keterkaitan yang sangat erat, masing-masing konstrak tersebut mencerminkan satu konstrak yang lain (Frawley dalam Forrester, 1996). Keterkaitan antara bahasa dan budaya terletak pada asumsi bahwa setiap budaya telah memilih jalannya sendiri-sendiri dalam menentukan apa yang harus dipisahkan dan apa harus diperhatikan untuk memberi nama pada realitas (Goldschmidt, 1960). Di sisi yang lain, keterkaitan antara bahasa dan pikiran terletak pada asumsi bahwa bahasa mempengaruhi cara pandang manusia terhadap dunia, serta mempengaruhi pikiran individu pemakai bahasa tersebut (Whorf dalam Rakhmat, 2000). Keterkaitan antara bahasa dan pikiran dimungkinkan karena berpikir adalah upaya untuk mengasosiasikan kata atau konsep untuk mendapatkan satu kesimpulan melalui media bahasa. Beberapa uraian para ahli mengenai keterkaitan antara bahasa dan pikiran antara lain:
1. Bahasa mempengaruhi pikiran
Pemahaman terhadap kata mempengaruhi pandangannya terhadap realitas. Pikiran dapat manusia terkondisikan oleh kata yang manusia digunakan. Tokoh yang mendukung hubungan ini adalah Benyamin Whorf dan gurunya, Edward Saphir. Whorf mengambil contoh Bangsa Jepang. Orang Jepang mempunyai pikiran yang sangat tinggi karena orang Jepang mempunyai banyak kosa kata dalam mejelaskan sebuah realitas. Hal ini membuktikan bahwa mereka mempunyai pemahaman yang mendetail tentang realitas.
2. Pikiran mempengaruhi bahasa
Pendukung pendapat ini adalah tokoh psikologi kognitif yang tak asing bagi manusia, yaitu Jean Piaget. Melalui observasi yang dilakukan oleh Piaget terhadap perkembangan aspek kognitif anak. Ia melihat bahwa perkembangan aspek kognitif anak akan mempengaruhi bahasa yang digunakannya. Semakin tinggi aspek tersebut semakin tinggi bahasa yang digunakannya.
3. Bahasa dan pikiran saling mempengaruhi
Hubungan timbal balik antara kata-kata dan pikiran dikemukakan oleh Benyamin Vigotsky, seorang ahli semantik berkebangsaan Rusia yang teorinya dikenal sebagai pembaharu teori Piaget mengatakan bahwa bahasa dan pikiran saling mempengaruhi. Penggabungan Vigotsky terhadap kedua pendapat di atas banyak diterima oleh kalangan ahli psikologi kognitif.
Kata-kata adalah bentuk pemberian pakaian pada realita faktual yang terjadi secara nyata. Pemberian ini dipengaruhi oleh faktor subjektifitas kebudayaan dan individu. Subjektifitas ini terlihat ketika manusia dari latar belakang yang berbeda memotong realita menurut kehendaknya sendiri. Manusia memotong dunia realitas dan mengklasifikasikan ke dalam kategori yang sama sekali berbeda berdasarkan prinsip yang sama sekali berbeda dalam tiap budaya. Kata Inggris, misalnya table (meja), meskipun bentuknya bundar atau persegi, di dalam pikiran orang Inggris menyatakan bahwa kedua benda tersebut esensinya merupakan satu dan sama karena melayani fungsi yang sama. Orang non Indo-Eropa tidaklah memotong realitas berdasarkan fungsinya, melainkan pada bentuk dasarnya: bundar, persegi, padat, atau cair. Bagi orang non Indo-Eropa kriteria tentang bentuk dan rupa adalah pasti, dalam menentukan apakah sebuah benda itu menjadi milik kategori ini atau kategori atau. Di mata masyarakat ini, meja bundar dan meja persegi adalah dua benda yang sama sekali berbeda sehingga harus ditunjukkan dengan nama yang berbeda pula.
Bahasa yang diwujudkan dalam kata-kata adalah representasi realitas. Untuk menyimbolkannya dalam bentuk kata-kata manusia memotong dunia realitas dan mengklasifikasikannya ke dalam kategori yang berbeda antara satu budaya dengan budaya lainnya. Cara yang digunakan oleh tiap budaya dalam memotong realitas adalah dengan subjektif (arbitrary) seperti halnya memotong sebuah kue sehingga fenomena ini terkenal dengan nama cookie cutter effect (Albrecht, 1986).
Seorang ahli antropologi yang sedang mencoba mencacah jumlah penduduk sebuah suku di pedalaman Afrika. Ia bertanya kepada salah seorang penduduk di sana. “Berapa anak laki-laki ibu?”. “Dua” jawab sang ibu. Sang antropolog itu kemudian terkejut karena sebelumnya ia bertanya kepada suaminya, yang menjawab bahwa anaknya berjumlah tiga orang. Peneliti menemukan bahwa anak bagi penduduk di sana, adalah keturunan mereka yang berjenis kelamin sama dengan mereka. Ketika sang antropolog mengumpulkan mereka berdua kemudian bertanya berapa jumlah anak laki-laki dan perempuan mereka, mereka menjawab sembilan. Tak kalah dengan keterkejutan yang pertama, antropolog itu menemukan bahwa bagi suku tersebut, anak mereka yang telah meninggal dunia juga mereka masukkan dalam hitungan. Anak mereka yang telah meninggal harus tetap diperkenalkan kepada orang yang bertanya jumlah anak mereka (Albrecht, 1986). Peristiwa di atas merupakan salah satu bukti bahwa sebuah kebudayaan mempunyai cara sendiri dalam mengkategorikan realitas.
Setiap budaya memiliki cara tersendiri dalam memilih satu wilayah tertentu dari keseluruhan realitas untuk diwujudkan dalam sebuah kata-kata. Aktifitas ini kemudian paralel dengan konsep kategorisasi yang dilibatkan dalam hipotesis linguistic determinism melalui apa yang dinamakan dengan frame of reference. Frame of reference adalah sebuah sistem yang membantu manusia mengklasifikasikan objek.

E. Implikasi Konsep Saphir-Whorf
Lepas dari kontradiksi pendapat mengenai keterkaitan antara bahasa dan pikiran, bahasa memang mempunyai pengaruh atas pengalaman manusia. Bahasa memberikan pandangan perseptual dan sekaligus memaksakan pandangan konseptual tertentu. Bahasa memaksakan pandangan perseptual manusia karena bahasa adalah kaca mata yang dipakai untuk melihat realitas. Manusia sama saja dengan orang yang buta yang tak mampu mengenali realita semanusiar ketika manusia manusia memiliki bahasa.
1. Fenomenologi.
Bukti keterkaitan antara bahasa dan pikiran dapat dilihat pada kasus beberapa orang fenomenolog. Dengan berbahasa yang fasih yang didukung dengan penguasaan kosa kata yang baik maka mereka dapat berargumentasi dengan baik pula. Oleh karena itu mengapa ahli-ahli besar dalam bidang fenomenologi juga terkenal sebagai ahli bahasa, penulis novel, puisi, serta artikel. Jean Paul Sartre, Leo Tolstoy, Martin Heidegger, adalah contohnya. Ketika para peneliti sibuk dengan penjelasan statistika sebagai bukti teorinya, orang-orang ini menggunakan media bahasa untuk menjelaskan teorinya. Para fenomenolog telah langsung masuk ke dalam realitas dan mengambarkan apa yang dapat mereka kenali. Banyak yang mereka kenali dari realitas itu karena mereka mempunyai kosa kata yang banyak. Dalam kasus CAT, penguasaan bahasa seorang anak menjadi faktor yang berpengaruh, jika yang dikenali hanyalah gambar kuda, maka ia hanya menyebut gambar kuda. Jika kartu CAT itu diberikan kepada Sartre maka tidak hanya kuda, pigura, kalung, sampai tatapan mata kuda, ekspresi wajahnya, dan posisi tubuh kuda mungkin ikut diceritakan.
Bahasa memberikan satu nuansa tertentu pada sebuah ide (Valsiner, 1996). Bahasa adalah instrumen yang membentuk dan membangun ide kreatif dari pikiran. Melalui bahasa ide menjadi objektif. Yang semula ia berada di awan-awan angan-angan, ide menjadi konkret dan turun ke bumi. Sekali individu memberikan bentuk berupa kata-kata pada idenya dengan kata-kata, ide ini akan menjadi objek bagi dirinya sendiri sebagai kata-kata yang terdengar (audible) sehingga mudah diakses oleh masyarakat.
2. Penguasaan melalui Bahasa
Bahasa juga memaksakan pandangan konseptual pemakai bahasa karena secara tak langsung manusia mengevaluasi realita berdasarkan bahasa yang manusia miliki. Dengan cara seperti inilah bahasa mempengaruhi pikiran dan tindakan manusia. Sebuah desa miskin yang sedang banyak penduduknya susah mencari makanan, hal tersebut bagi pemerintah bukanlah kelaparan, tetapi “rawan pangan”. Pelonjakan harga, bukanlah “kenaikan harga”, tetapi “penyesuaian harga”. Upaya rakyat Palestina lepas dari “penjajahan” Israel adalah tindakan “agresi” , sedangkan tindakan Israel adalah “pembalasan”.
Filosof barat, Harold Titus, bahkan mengatakan bahwa bahasa mencetak pikiran-pikiran orang yang memakainya. Pernyataan ini meskipun belum terbukti dalam kancah penelitian ilmiah akan tetapi memuat sebuah gagasan yang orisinal. Komunikasi manusia bersifat intensional. Dengan kata lain, dasar komunikasi yang dilakukan oleh manusia adalah mengubah pola pikir dan sikap orang lain. Transmisi informasi ini sangat penting bagi sebuah kebudayaan mempertahankan bentuk pengetahuan (known forms) yang dimilikinya. Satu rumusan yang dikeluarkan oleh Michael Foucoult dan Thomas Szas tentang bahasa kiranya menjadi kata kunci dari pengaruh bahasa dalam merekayasa perilaku. Foucoult mengatakan bahwa “Siapa yang mampu memberi nama, dialah yang menguasai”, sedangkan Szas mengatakan bahwa “Kalau di dunia hewan berlaku hukum makan atau dimakan, maka dalam dunia manusia berlaku hukum membahasakan atau dibahasakan”
Jika kita berani untuk melangkah lebih jauh lagi, kita akan mendapatkan hipotesis bahwa bahasa mencetak sebuah kepribadian. Ketika satu bahasa memproduksi satu perilaku tertentu, serta ketika perilaku tersebut diulang-ulang menjadi kebiasaan maka yang tercipta adalah kepribadian. Hal ini dikarenakan bahwa pada mulanya manusia membentuk kebiasaan, tetapi setelah itu kebiasaanlah yang membentuk manusia.
3. Masalah penerjemahan.
Menurut pandangan Whorfian, muatan (content) berdiri di atas bentuk bahasa yang merupakan medium dalam menentukan sebua makna. Oleh karena itu translasi satu bahasa ke bahasa lain sangat problematik dan kadang menjadi tidak mungkin. Translasi kadang hanya mampu memindahkan bahasa akan tetapi tidak mampu memindahkan muatan dan makna, karena ada semacam unverbalized thought yang harus juga diterjemahkan. Beberapa sastrawan yang karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa lain merasa ada sesuatu yang kurang dari hasil terjemahan tersebut.
4. Keterbatasan Kata Emosi
Implikasi lain dari hipotesis Whorf dan Sapir adalah keterbatasan kosa kata yang menyebabkan gangguan psikologis. Sedikitnya kosa kata emosi yang dimiliki oleh banyak orang membuat mereka lemah dalam menggambarkan emosi mereka dengan kata-kata mereka. Padahal kemampuan untuk verbalisasi emosi ini sangat berguna untuk kesehatan mental mereka. Mampu memberi nama emosi berarti dapat memilikinya untuk digunakan sesuai dengan fungsinya dan tidak terganggu dengan kehadirannya. Daniel Goleman (1995) sudah mendeteksi pentingnya masalah ini sejak awal. Kemampuan memberi nama pada emosi adalah salah satu bagian integral Kecerdasan Emosi dalam aspek Self Awarenes. Di sini individu mampu mengamati diri, menghimpun kosa kata untuk melabeli perasaannya, serta mengetahui hubungan antara pikiran, perasaan, dan reaksi. Mengetahui aneka ragam perasaan yang muncul memungkinkan individu untuk mengenal diri mereka sendiri.
Dengan membahasakannya dalam kata-kata, mereka menjadi tahu bahwa emosi itu benar-benar nyata ada dalam diri mereka. Seorang ahli psikolinguistik, Alfred Korzybsky mengatakan beberapa gangguan jiwa disebabkan oleh keterbatasan penggunaan kata oleh individu yang tidak sanggup mengungkapkan realitas dengan cermat. Yang diketahuinya hanya dua pilihan yang ekstrem. Gembira-sedih, tersanjung-marah, atau sehat-sakit. Padahal realitas tidaklah demikian. Hidup tidak terpisah menjadi kutub ekstrim negatif dan ekstrim positif. Realitas sangat kaya sekali dengan warna-warna emosi.
Perasaan atau emosi sedih muncul tanpa pemaknaan yang jelas. Mereka belum mengetahui apa yang menyebabkan emosi tersebut muncul dan bagaimana hubungannya dengan reaksi yang mereka lakukan. Pelajar belum dibina dan dibimbing untuk mengenal emosi mereka dan cara-cara mengekspresikannya dengan baik. Dengan mengenal emosi yang sedang berlangsung, maka emosi tersebut dapat dinikmati dan dikendalikan.
Melalui uraian di muka dapat disimpulkan bahwa bahasa mampu mengubah pikiran melalui beberapa formulasi, antara lain:
1. Bahasa meningkatkan komunikasi
2. Bahasa memperluas pikiran dengan adanya abstraksi
3. Bahasa membentuk kebudayaan
4. Bahasa dapat membangun verbal sef-concept

F. PENUTUP
Bahasa dan pikiran memiliki keterkaitan yang saling mempengaruhi (resiprokal). Variabel berupa domain-domain kognitif dapat dipertimbangkan sebagai pendahulu perkembangan struktur bahasa pada awal tahap perkembangan anak. Namun demikian, ada proses tahapan produksi bahasa (production of language) mungkin lepas atau tidak tergantung pada domain kognitif yang lain. Sebagai bukti misalnya, beberapa individu yang memiliki gangguan keterbatasan bahasa memiliki anterior aphasics di dalam otaknya dengan performansi yang optimal. Misalnya adanya temuan hubungan yang signifikan antara kemampuan mengklasifikasikan (classificatory ability) and pemahaman makna kata (word meaning) pada individu yang memiliki gangguan bahasa atau individu yang menderita skizofren.
Wacana yang dilontarkan oleh Whorf dan Sapir cukup menantang peneliti yang hendak mengkaji tema tersebut. Beberapa pandangan yang moderat terhadap konsep tersebut perlu dipertimbangkan daripada pandangan yang menentangnya. Beberapa pertimbangan yang dapat dijadikan pertimbangan antara lain:
1. Determinasi bahasa dapat dimodifikasi dengan asumsi bahwa bahasa memfasilitasi potensi dalam menalar daripada sebagai penentu mutlak penalaran.
2. Proses satu arah tersebut dapat diubah menjadi proses dua arah dengan menambahkan bahwa macam bahasa yang digunakan manusia juga dipengaruhi oleh cara manusia memandang dunia dan juga sebaliknya.
3. Studi komparasi antar bahasa yang berbeda dalam mencerminkan pikiran yang berbeda lebih diarahkan untuk mengidentifikasi keragaman di dalam satu bahasa daripada perbandingan bahasa utama sebuah masyarakat.

Daftar Pustaka
Albrecht, K. 1986. Brain Power. London: John Willey & Sons.
Forrester, M.A., 1996. Psychology of Language : A Critical Introduction. London: Sage Publication
Gleitman, L & Papafragou, A. 2000. Language and thought. To appear in K. Holyoak and B. Morrison (eds.), Cambridge Handbook of Thinking and Reasoning. Cambridge: Cambridge University Press.
Jaszczolt, K. 2000. Language and Thought. www.cam.ac.uk
Ludlow, P. 2000. Language and Thought. Martinich and D. Sosa (eds.) A Companion to Analytic Philosophy, Oxford: Basil Blackwell
Olson D R, 1970 Language and thought: aspects of a cognitive theory of semantics. Psycho! Review. 77:257-73, 1970.
Rakhmat, J. 1999. Psikologi Komunikasi. Bandung : Rosdakarya.
Rakhmat, J. 2000. Catatan Kang Jalal. Bandung: Rosda Karya.
Slobin, l. Language and thought online: Cognitive consequences of linguistic relativity Published in d. Gentner & s. Goldin-meadow (eds.), (2003). Language in mind: advances in the study of Language and thought. Cambridge Press.
Sumaryono, H. 1993. Hermeneutik. Yogyakarta : Kanisius
Suriasumantri, J. 1998. Ilmu dalam Perspektif. Jakarta: Yayasan Obor
Wierzbicka, 1995. Emotion and Facial Expression: A Semantic Perspective. Journal Culture & Psychology. Vol I: 227-258. London: Sage Publication
Wierzbicka, 1999. Emotions Across Language and Culture. Cambridge : Cambridge University Press

Oleh : Wahyu Widhiarso

Format Kutipan APA :
Widhiarso, W. (2005). Pengaruh bahasa terhadap pikiran kajian hipotesis Benyamin Whorf dan Edward Sapir. Retrieved from http://widhiarso.staff.ugm.ac.id/h-33/pengaruh-bahasa-terhadap-pikiran.html

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Terapi Psikologi kenakalan Anak/Remaja

“Anak saya bandel sekali” ucap seorang ibu yang mempunyai anak 10 tahun.
“Anak saya lebih parah, putus sekolah, dikeluarin dari sekolah” sahut seorang ibu yang stres berat.
“Pembantu saya suka mencuri, tidak takut dimarahi, tidak pernah jera, merusak properti kami” keluh seorang majikan yang kesal
“Anak asuh kami senang berbohong, tidak tanggung jawab, tidak pernah menaati peraturan, sering berkelahi, tidak dapat diatur, sering pergi sesuka hati tanpa permisi” jawab seorang pengasuh panti asuhan.
” Teman saya seorang pembunuh tanpa meninggalkan jejak dan tanpa merasa bersalah sama sekali” pinta seorang seorang teman sepermainanya.

Beberapa pernyataan di atas merupakan kejadiaan yang benar-benar nyata dan sungguh menyeramkan dan sekaligus mencemaskan lingkungan sekitar kita.. Ya.. Antisosial.. Manusia yang mempunyai superego yang sangat lemah, nilai dan norma sosial yang sangat buruk, moralitas yang tidak terjaga dan tidak memiliki aturan sosial.

Untuk sebutan di zaman moderenisasi ini sebagai manusia psikopat atau sosiopat.. mereka mempunyai ciri-ciri yang sangat kompeks yang tentunya berhubungan dengan aspek aspek sosial dan masyarakat seseorang.

Secara umum bagi orang-orang yang belum mengetahui sebutan dari antiosial, mereka menyebut orang-orang yang mempunyai sisat-sifat di atas sebagai “Bad Boy”atau “Bad Girl”. Mereka hanya mengira perilaku-perilaku terganggu tersebut merupakah hal yang wajar atau merupakan suatu penyesuaian sosial atau perubahan/perkembangan seseorang dari satu masa ke masa berikutnya. Namun, mereka belum mengetahui bahwa manusia antisosial adalah manusia yang terganggung secara psikologis secara berkesinambungan hampir di setiap aspek kehidupannya.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan manusia menjadi antisosial adalah adalah :
1. Pola asuh keluarga. Orang tua yang tidak menyerapkan aturan-aturan di dalam keluarga sehingga membuat anak menjadi tidak terorganisasi. Orang tua yang terlalu menyanyangi anaknya/membela anaknya walaupun salah/melindungi anaknya dari kesalahan sehingga membuat anaknya menjadi manja dan tidak dapat menerapkan hukum benar atau salah. dll
2. Figur Orang tua. Orang tua yang tidak mempunyai model yang baik, orang tua yang mempunyai perilaku antisosial menyebabkan anak-anaknya mengikuti model dari orang tuanya. Kehilangan orang tua atau tidak adanya figur orang tua juga menyebabkan anaknya tidak dapat menemukan model yang akan dicontohinya sehingga membuat anak mencontohi orang lain terutama orang yang kurang bijaksana.
3. Lingkungan. Salah satu perkembangan dan kepribadian manusia ditentukan oleh faktor lingkungan.
4. Biologis/Genetika. Ahli ilmu pengetahuan menemukan bahwa ada kesalahan/kerusakan otak pada sang anak.
5. Dll

Setelah memasuki masa dewasa, mengapa manusia antiosial tidak takut untuk membunuh dan tidak merasa sedih/tertekan sama sekali bahkan dapat hidup normal dan berpakai rapi seperti para eksekutif ???

Ya.. karena mereka mengalami Gangguan Kepribadian Antisosial.

Penanganan yang dapat kami berikan adalah menggunakan 2 metode penyembuhan, yaitu penyembuhan secara psikologis dan fisik. Mengapa fisik ?? Karena gangguan tersebut diyakini oleh para ahli yang mengatakan bahwa adanya kemungkinan kelebihan hormon yang dapat meningkatakan agretivitas.

Penangan secara psikologis mencakup terapi tingkah laku (behavioritis therapy), terapi kognitif (perubahan cara berpikir), terapi cermin dan terapi moralitas.

Kemudian disamping itu, kami juga menambahkan terapi fisik untuk membantu menyelaraskan organ-organ tubuh yang diyakini dapat menganggu otak, tulang, hormon dan agretivitas. Terapi yang diberikan adalah terapi fisioterapi, terapi akupunktur, terapi akupresure dan terapi listrik.

Intinya kami menyembuhkan klien secara keseluruhan secara fisik dan psikis.

Siapapun yang menemukan orang-orang yang seperti ini :
1. Tidak takut pada hukuman.
2. Mengulangi kesalahan yang sama terus menerus.
3. Tidak bertanggung jawab
4. Bermuka dua (Ramah di depan dan buruk di belakang)
5. Suka berbohong
6. Berkelahi, tidak mau mengerjakan kewajibannya, putus sekolah.
7. Tidak mempunyai rasa malu
8. Melanggar semua norma sosial dan masyarakat
9. Dll

Jika anda menemukan anak anda mempunyai sifat antisosial.. segera konsultasi dengan ahlinya dan cari penangananya. Karena semakin lama dibiarkan maka gangguannya akan semakin berat dan banyak bahkan jika kita membiarkan antisosialnya berkembang sampai dewasa maka anak tersebut dapat menjadi seorang pembunuh.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Psikologi Umum

A. Konsep Psikologi

Konsep psikologi adalah gagasan-gagasan mengenai sesuatu yang menyangkut tentang tingkah laku manusia dan lingkungan sekitarnya melalui pengalaman-pengalaman yang dialami.

B. Pengertian Psikologi

Menurut definisi nominalis istilah psikologi berasal dari dua kata, yaitu “psikhe” dan “logos” . “Psikhe” berarti jiwa dan “logos” berarti ilmu. Maka istilah Psikologi dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang jiwa.

Definisi Psikologi Menurut Para Ahli :

a) Ernest Hilgert

Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dan hewan lainnya.

b) George A. Miller

Psikologi adalah ilmu yang berusaha menguraikan, meramalkan, dan mengendalikan peristiwa mental dan tingkah laku.

c) Robert S. Woodworth dan Marquis DG

Psikologi adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari aktifitas atau tingkah laku individu dalam hubungan dengan alam sekitarnnya.

d) Clifford T. Morgan

Psikologi adalah Ilmu yang mempelajari tingkahlaku dan hewan.

Jadi, Psikologi ialah ilmu pengetahuan yang mempelajari penghayatan, tingkahlaku manusia dalam kaitannya dengan lingkungan yang ditinjau dari fungsinya sebagai subjek, tingkahlaku dan motifasinya serta ilmu pengetahuan yang mempelajari organisme manusia yang dipengaruhi oleh keturunan dan dinamika pengalaman dan lingkungan.

Jadi menurut penulis, psikologi merupakan ilmu yang mempeajari tentang tingkah laku manusia maupun hewan dalam lingkungan hidupnya.

C. Hubungan Psikologi dengan Ilmu lain

Psikologi dengan ilmu lain sangat berkaitan dan bersifat timbal-balik.Perilaku manusia tidak hanya dipelajari oleh psikologi, tetapi juga oleh Antropologi, Kedokteran, Sosiologi, manajemen dan beberapa cabang Linguistik. Semua ini. Yang membedakan Psikologi dari ilmu-ilmu prilaku lain adalah bahwa psikologi lebih menaruh perhatian pada perilaku manusia sebagai individu, sedang antropologi, sosiologi dan manajemen lebih pada perilaku manusia sebagai kelompok. Kedokteran memang menaruh perhatian pada perilaku individu, tetapi lebih menekan gejala-gejala fisik dan Psikologi lebih pada gejala-gejala mental.

Psikologi juga dipandang sebagai Ilmu Biososial karena baik aspek-aspek sosial perilaku organisme maupun aspek-aspek Fisiologis atau Biologis terjadinya perilaku mendapat perhatian yang sama besarnya.

Sejak awal perkembangannya Psikologi banyak dipengaruhi oleh ilmu-ilmu lain. Telah diakui bahwa psikologi berinduk kepada Filsafat, khususnya filsafat mental. Namun dalam perkembangan selanjutnya ilmu-ilmu (Beta) seperti Fisika, Kimia dan Biologi memberikan andil yang cukup besar baik dalam aspek metodologi maupun topik-topik kajian. Sulit untuk merinci pengaruh tersebut satu persatuan.

D. Sejarah Psikologi Dan Psikologi Sebagai Ilmu Otonom

Psikologi dapat disebut sebagai ilmu yang mandiri karena memenuhi syarat berikut:

a. secara sistematis psikologi dipelajari melalui penelitian-penelitian ilmiah dengan menggunakan metode ilmiah

b. struktur keilmuan yang jelas

c. memiliki objek formal dan material

d. menggunakan metode ilmiah seperti eksperimen, observasi, sejarah kasus (case history), pengetesan dan pengukuran (testing and measurement)

e. memiliki terminilogi khusus seperti bakat, motivasi, inteligensi, kepribadian

f. Dapat diaplikasikan dalam berbagai adegan kehidupan. Kaitan psikologi dengan ilmu lain, psikologi dalam perkembangannya banyak dipengaruhi ilmu-ilmu lain misalnya filsafat, sosiologi, fisiologi, antropologi, biologi. Pengaruh ilmu tersebut terhadap psikologi dapat dalam bentuk landasan epistimologi dan metode yang digunakan. Psikologi memberikan sumbangan terhadap pendidikan, karena subjek dan objek pendidikan adalah manusia (individu), psikologi memberikan wawasan bagaimana memahami perilaku individu dan proses pendidikan serta bagaimana membantu individu agar dapat berkembang optimal. Sejarah singkat psikologi, sejak zaman filsuf-filsuf besar seperti Socrates (469-399 SM) telah berkembang filsafat mental yang membahas secara jelas persoalan “jiwaraga”. Rene Descartes (1596-1650) menge¬mukakan bahwa manusia memiliki dimensi jiwa dan raga yang tidak dapat dipisahkan. Pada awal abad ke-19, psikologi mengalami kemajuan yang cukup pesat, Gustaf Tehodore Fechner (1801-1650) dan Ernest Heinrich Weber (1795-1878) menemukan suatu hukum penginderaan melalui eksperimen yang dipublikasikan pada tahun 1860 dalam buku Element of Pschology. Puncaknya adalah ketika Wilhem Wund (1832-1920) pada tahun 1879 mendirikan laboratorium psikologi pertama di Leipzig Jerman, dan peristiwa ini menandai psikologi sebagai ilmu mandiri. Tahun 1883 berdiri laboratorium serupa di Universitas John Hopkins. Tahun 1890 terbit buku The Principles of Psychologi karangan William James (1842-1910) yang setahun kemudian menjadi profesor psikologi dan sejak itu hampir semua universitas di Amerika memiliki fakultas yang mandiri. Di Indonesia perkembangan psikologi dimulai pada tahun 1953 yang dipelopori oleh Slamet Iman Santoso dengan mendirikan lembaga pendidikan psikologi pertama yang mandiri, pada tahun 1960 lembaga tersebut sejajar dengan fakultas-fakultas lain di Universitas Indonesia, yang kemudian dikembangkan di UNPAD dan UGM. Belakangan ini kemajuan psikologi semakin pesat, ini terbukti dengan bermunculannya tokoh-tokoh baru, misalnya B.F. Skinner (pendekatan behavioristik), A. Maslow (teori aktualisasi diri) Roger Wolcott (teori belahan otak), Albert Bandura (teori pembelajaran sosial), Daniel Goleman (teori kecerdasan emosi), Howard Gardner (teori Multiple Intelligences)

E. Aliran-aliran Psikologi

1. STRUKTUALISME

Tokoh aliran ini WILLHEM WUNDT, menyatakan bahwa untuk mempelajari gejala – gejala kejiwaan kita harus mempelajari isi dan struktur jiwa seseorang, objek utama dalam psikologi adalah kesadaran, pengalaman – pengalaman kesadaran di bagi atas 2 bagian yaitu penginderaan dan perasaan.

2. FUNGSIONALISME

Tokoh aliran ini WILLIAM JAMES (1842 – 1910), menyatakan bahwa aliran ini mempelajari fungsi ? tujuan akhir aktivitas, semua gejala psikis berpangkal pada pertanyaan dasar yaitu apakah gunanya aktivitas itu, dan jiwa seseorang diperlukan untuk melangsungkan kehidupan dan berfungsi untuk menyesuaikan diri.

3. PSIKOANALISIS

Tokoh aliran ini SIGMUD FREUD menyatakan peeilaku manusia baik yang nampak (gerakan otot) maupun tersembunyi (pikiran) adalah disebabkan oleh peristiwa mental sebelumnya. Psikoanalisis disebut sebagai depth psychology yang mencoba – coba mencari sebab – sebab perilaku manusia pada alam tidak sadarnya.

4. GESTALT

Aliran ini muncul pada tahun 1912 ddirikan oleh Max Wertheimer (1880 – 1943). Ia mulai tertarikpada satu aliran filsafat yang terrutama mempelajari tentang fenomena (gejala) yang dikenal dengan aliran fenomologi. Aliran ini menolak analisis dan penguraian jiwa ke dalam elemen-elemen yang lebih kecil karena dengan demikian, makna dari jiwa itu sendiri berubah sebab bentuk kesatuannya juga hilang. Menekankan pada fenomenologis dalam aktifitas mental namun tetap empiris. (pindah ke amerika tetapi sulit berkembang akibat aliran behaviorisme.

5. BEHAVIOURISME

Tokoh aliran ini PETROVIC PAVLOV. Aliran ini dikatakan sebagai ilmu jiwa namun tidak peduli padsa jiwa. Aliran ini memandang manusia sebagai mesin (homo mechanicus) yang dapat dikendalikan perilakunya melalui suatu pelazinman (conditioning).

KESIMPULAN

Psikologi ialah ilmu pengetahuan yang mempelajari penghayatan, tingkahlaku manusia dalam kaitannya dengan lingkungan yang ditinjau dari fungsinya sebagai subjek, tingkahlaku dan motifasinya serta ilmu pengetahuan yang mempelajari organisme manusia yang dipengaruhi oleh keturunan dan dinamika pengalaman dan lingkungan.

Namun perilaku manusia tidak hanya dipelajari oleh psikologi, tetapi juga oleh Antropologi, Kedokteran, Sosiologi, manajemen dan beberapa cabang Linguistik. Hal ini menunjukkan bahwa psikologi memiliki hubungan antara satu dengan yang lain.


HASIL DISKUSI

1. Tadi di jelaskan pada aliran Behaviourisme bahwa memandang manusia sebagai mesin, berarti manusia bias diperlakukan seperti robot yang dapatdisuruh-suru padahal manusia bukan robot dan bagaimana cara menyembuhkan seorang anak yang fobia terhadap sesuatu? (Ahmad Fahmi)

· Manusia sebagai mesin karena manusia lahir belum membawa bakat. Walaupun sudah membawa warisan dari orang tua tetapi manusia tersebut harus melalui penyerapan – penyerapan, latihan – latihan, dan dorongan dari lingkungan. Manusia bekerja seperti mesin karena manusia selalu mematuhi (dipengaruhi orang lain). Contoh : Seorang anak akan belajar karena diberitahu oleh gurunya jika besok akan ulangan.

· Cara menyembuhkan anak yang fobia terhadap sesuatu yaitu dengan menggunakan terpi secara bertahap, sehingga anak mulai dapat terbiasa dan lama – kelamaan rasa takutnya semakin berkurang.

2. Bagaimana hubungan psikologi dengan bidang hukum?(Didit Wisnu)

· Psikologi itu mempelajari tingkah laku manusia atau makhluki hidup. Misalnya ada seora pencuri atau pembunuh. Sebelum dijatuhi vonis (hukuman), maka diteliti dulu apa motif pencurian dan pembunuhan itu dan bagaimana keadaan jiwa pelaku. Jika pelaku mengalami gangguan kejiwaan, maka hukumannya tidak mungkin berat atau dapat juga terbebas dari hukuman.

· Cara menyembuhkan anak yang fobia adalah dengan melakukan pembiasaan-penbiasaan (counterconditioning)

3. Apakah pada aliran psikoanalisis hanya mempelajari pikiran bawah sadar dan apa yang dimaksud ketidaksadaran pada aliran ini?(Ani Yuliani)

· Psikologi bukan hanya selalu mempelajari pikiran di bawah sadar, namun dalam aliran psikoanalisa ini memang mempelajari tentang ketidaksadaran. Ketidaksadaran dalam aliran ini yang dimaksud Freud yaitu perilaku dan kepribadian manusia banyak dipengaruhi oleh ketidaksadaran. Bawah sadar adalah konsep bahwa keinginan yang tidak dapat di terima (dilarang, dihukum) pada masa anak – anak dibuang dari kesadaran dan menjadi bagian bawah sadar dan tetap berpengaruh. Hal ini disebabkan oleh peristiwa – peristiwa mental sebelumnya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Psikologi Islam dalam perspektif


Semerbak diskursus islamisasi sains menebar pesona dengan mencitrakan diri sebagai instrument revivalisme Islam. Dengan argumen historis menampilkan superioritas yang pernah diraih. Pesonanya pun seakan membangkitkan gairah para intelaktual (yang beragama) Islam untuk membangun kembali puing-puing reruntuhan. Tidak ketinggalan para muslim yang bergelut di bidang psikologi, juga turut meramaikan diskursus islamsasi ilmu pengetahuan dengan menggagas Psikologi Islam.

Namun seperti halnya gagasan islamisasi pengetahuan yan mengandung kontroversi, Psikologi Islam juga menebar aroma perdebatan antara yang pro dan kontra. Yang pro Psikologi Islam berpendapat bahwa dalam khasanah Islam pada dasarnya tidak sedikit yang membincangkan manusia sebagai objek material dari psikologi itu sendiri. Untuk itulah dengan gagasan Psikologi Islam mereka ingin menegaskan bahwa pandagan Islam lebih baik daripada konsepsi yang ada dalam hamparan Psikologi modern (barat)

Sedagkan yang menolak gagasan tentang Psikologi Islam berargumentasi hampir sma dengan penolakan terhadap islamisasi ilmu pengetahuan. Bahwa pada dasarnya konsepsi psikologi yang sudah ada tidak perlu diislamkan karena terlalu naïf jika teks keagamaan yang ada dalam Islam hanya dijadikan legitimasi pada konsepsi psikologi yang sudah ada akan berujung pada labelisasi.

Terlepas dai pro dan kontra munculnya psikologi Islam tersebut, penulis ingin mencoba menelaah ulang gagasan Psikologi Islam yang sampai saat ini pun diantara para pendukungnya sendiri masih memperdebatkan apakah menggunakan istilah Psikologi Islam, Psikologi Islami atau Psikologi Muslim. Walaupun sebenarnya cita-cita yang ingin dicapai sama, yakni menjadikan Psikologi selaras dengan nilai-nilai Islam. Dari perdebatan tersebut bisa dilihat secara sederhana tentang gagasan psikologi Islam kosong tanpa landasan epistemologi. Padahal dalam rentangan sejarah ilmu pengetahuan selalu ditopang oleh rancang bangun epistemologi.

Searah dengan gagasan islamisasi ilmu pengethaun, psikologi Islam tidak lebih dari reaksi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan yang dianggap jauh dari nilai-nilai spiritualiatas alias sekuler. Sebagaimana catatan dalam lembar sejarah ilmu pengetahuan moden sejak runtuhnya dominasi gereja terhadap segala konsepsi pengetahuan uamat manusia (barat) yang digantikan oleh ilmu pengetahuan yang diyakini sebagai jalan untuk mencapai kebenaran. Sejak saat itulah agama hanya menjadi monument ritualitas semata. Dan agama harus menelan pil pahit kenyataan sejarah yang tidak lagi berpihak padanya.

Dengan ilmu pengetahuan yang mendominasi sebagai jalan untuk mencapai kebenaran dalam bebarapa dekade terakhir pada akhirnya harus mengalami goncangan hebat dari para penganutnya sendiri. Adalah Nitsche yang mengawali melakukan huru–hara dengan menolak adanya klaim-klaim kebenaran dogmatis. Munculnya ilmu pengetahuan yang awalnya dimaksudkan untuk menentang dogmatisme gereja harus terjerumus pada dogmatismenya sendiri. Ilmu pengetahuan menjelma menjadi Tuahan baru dalam ranah kognisi manusia. sehingga aturan-aturan yang lahir dari ilmu pengetahuan tanpa disadari harus diikiti oleh seluruh umat manusia. sehingga mengharuskan Nietzsche untuk berteriak “Tuhan Telah Mati” untuk memutus mata rantai dogma-dogma yang ada diatas muka bumi.

Reaksi perlawanan terhadap ilmu pengetahuan tersebut juga diiikuti oleh para illmuwan Islam dengan melihat bahwa ilmu pengetahuan yang berkembang selama ini jauh dari nilai-nilai spiritualitas apalagi relegiusitas. Kosongnya nilai-nilai spiritualiats pada ilmupengetahuan menyebabkan hasil dari ilmu pengetahuan yang menyebabkan kerusakan di muka bumi akibat eksploitasi terhadap sumber daya alam dan manusia yang berlebihan bahkan keluar dari kewajaran. Sehingga dianggap relevan bila saat ini kita berbicara tentang integrasi antara ilmu pengetahuan dan agama (Islam). Sehingga tercipta harmoni antara ilmu pengetahuan dan agama.

Gagasan integrasi antara ilmu pengetahuan dan agama pada perkembanganya (yang terjadi) saat ini hanya melahirkan justifikasi-justifikasi terhadap hasil-hasil ilmu pengetahuan yang sudah ada. Misalnya dalam psikologi, konsepsi motifasi yang dimunculkan dengan bersuber pada al-Qur’an, walaupun tidak persis sama dengan yang ada dalam konsepsi motivasi dalam psikologi modern. Tapi gagasan tentang teori motivasi yang dimunculkan tidak bisa dilepaskan dari alur pemikiran psikologi barat. Teori motivasi yang ditampilkan tidak lebih justifikasi parsial, karena dalam gagasan tersebut tidak mampu menciptakan gagasan yang benar-benara baru.

Realitas tersebut terjadi karena dalam gagasannya tidak ditopang oleh persepsi metodogi yang kuat. Metodologi yang digunakan masih berupa metodologi tradisional dalam rentang ilmu pengetahuan. Yakni metodologi positifistik dalam ilmu pengetahuan modern yang dipaksakan selaras dengan metodologi bayani dalam ilmu keagamaan (Islam).

Dengan latar belakang yang bertujuan untuk memadukan dan menyelaraskan ilmupengetahuan dan agama (Islam) seperti dijelaskan sebelumnya. Lahirlah gagasan Psikologi Islam. Gaung psikologi isalam oleh bebarapa kalangan yang mendukungnya di konsepsikan dalam dua arti. Pertama, upaya filterisasi terhadap konsepsi psikologi modern. Filterisasi kemudian diartikulasikan sebagai “penyortiran” terhadap teori-teori psikologi yang bertentangan dengan Islam dan mengambil teori-teori psikologi yang sesuai dengan Islam. Filterisasi akan memunculakan kontroversi tersendiri. Sebab dalam praksis Islam sendiri memiliki beragam interpretasi yang tidak bisa secara serta merta diseragamkan. Islam sebagai sebuah agama bagi penganutnya adalah kebenaran yang tak terbantahkan.tapi tafsir yang diimplementasikan dalam bentuk perilaku keberagamaan tidak bisa disamaratakan sedemikian rupa. Cara keberagmaan satu orang mungkin tidak sama dengan perilaku keberagmaan orang lain. Dan kita tidak bisa menganggap perilaku keberagamaan satu orang yang paling benar.

Problem kedua dari filterisasi yaitu tentang mana teori-teori psikologi yang bertentangan dan yang tidak dengan Islam. Yang harus dipahami bahwa hasil pemikiran yang secara otomatis menjadi teks juga akan mengalami beragam tafsir. Sehingga melakukan filterisasi terhadap teori-teori psikologi yang selaras dengan islam akan menemui jalan buntu. Dalam menentukan yang mana teori-teori psikologi yang bisa dikategorikan bertentangan atau tidak dengan Islam. Karena beragam tafsir yang muncul memiliki dasar logika masing-masing entah yang dipertentangkan atau diselaraskan. Salah satu contoh yang sering dibicarakan dalam ruang diskurus psikologi islam adalah teori-teori psikoanalisanya Freud yang dianggap banyak bertentangan dengan Islam. Semisal dalam teorinya, Freud mengungkapkan bahwa perilaku keberagamaan sama seperti perilaku kanak-kanak, dimana Tuhan diposisikan sebagai Bapak. Layaknya anak jika memiliki persoalan dia akan mengeluh pada bapaknya. Begitu juga halnya orang beragama jika merasa dirinya lemah dan ketika menghadapi persoalan yang sulit dipecahkan sendiri maka Tuhan menjadi tumpuannya.

Preskripsi Freud tersebut seringkali ditafsiri secara parsial dan arbitrer. Yang dilihat hanya dari ungkapan Freud yang tak lain adalah hasil kesimpulan Freud dari hasil refleksinya dari perilaku keberagamaan orang-orang yang pernah diamatinya. Jika hasil kesimpulan Freud semata yang dilihat, yang terjadi hanyalah penghakiman yang berakhir pada pendakwaan bahwa teori Freud tersebut berbau ateisme, dan tentunya sangat berlawanan dengan Islam. Sedangkan apabila dilihat bagimana Freud berkesimpulan seperti itu sebenarnya bisa menyadarkan manusia beragama untuk merefleksikan ulang perilaku keberagamaanya. Bahwa dalam beragama, manusia tidak sekedar menjadikan Tuhan sebagai pelarian.

Dengan deskripsi diatas, maka bisa dikatakan bahwa filterisasi terhadap teori-teori Psikologi modern akan menemui kebuntuan yang tak terselesaikan. Filterisasi yang dimaksud hanya akan melahirkan kerancuan-kerancuan dalam rancang bangunnya. Karena mau tidak mau filterisasi ini pada prosesnya akan terbentur oleh multi tafsir terhadap kebenaran yang berimbas pada lemahnya kategorisasi; mana teori-teori psikologi yang selaras atau yang bertentangan dengan Islam.

Kedua, yang mengartikan psikologi Islam adalah ilmu tentang manusia yang kerangka konsepnya benar-benar dibangun dengan semangat Islam dan bersandarkan pada sumber-sumber formal keislaman, yaitu al-Qur’an dan sunnah nabi, yang dibangun dengan memenuhi syarat-syarat ilmiah. Pandangan ini mula-mula diderivasikan dalam bentuk perumusan kembali konsep tentang manusia menurut Islam, lalu membangun konsp-konsep lanjutan tentang manusia dengan tetap berpegangan pada konsep dasar tadi. Setelah itu kita mencoba melakukan riset-riset ilmiah dengan kosep-konsep tersebut serta mencoba mengahadirkan pendekatan-pendekatan psikologi islam terhadap upaya pengembangan sumber daya manusia dan penyelesaian problem manusia.

Pandangan diatas sebenarnya memiliki titik lemah yang hampir sama dengan pandangan sebelumnya. Menjadikan al-Qur’an maupun Sunnah Nabi sebgai sumber dalam menggali konsep-konsep psikologi Islam memuat ungkapan yang paradoksal. Hal ini tidak lepas dari sebuah keyakinan yang tidak bisa ditawar dengan menjadikan al-Qu’an dan Sunnah Nabi sebgai kebenaran mutlak. Sedangkan konsep-konsep psikologi yang dihasilkan mau tidak mau harus memasuki ruang ilmu pengetahuan yang kebenarannya relative. Dan yang harus benar-benar dipahami dalam ruang ilmu pengetahuan adalah tidak adanya sumber yang benar-benar menjadi otoritas untuk menjadi sumber yang paling utama dari sumber lainnya.

Menjadikan al-Qur’an dan Sunnah Nabi sebagai sumber ilmu pengetahuan, maka pertama-tama yang harus dilakukan adalah menjadikan al-Qur’an dan Sunnah Nabi sebagai sumber yang memiliki posisi sama dengan sumber-sumber lainnya. Hal ini seharusnya mejadikan al-Qu’an dan Sunnah Nabi sebgai salah satu sumber dalam Psikologi yang dengan otomatis tidak lagi berbicara psikologi Islam melainkan an sich Psikologi secara Umum. Jadi, konsep-konsep psikologi yang dihasilkan dengan sendirinya menjadi bagian dari konsepsi psikologi pada umumnya. Namun jika hanya bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah nabi semata, konsep-konsep yang dihasilkan pun miskin konsepsi. Karena akan menutup ruang bagi sumber-sumber yang lainnya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Hubungan Psikologi Dengan Ilmu lain.

Psikologi adalah ilmu yang sangat erat kaitannya dengan ilmu- ilmu lain. Hubungan psikologi dengan ilmu lain dapat dikatakan seperti simbiosis mutualisme, yaitu saling membantu, saling mengisi satu sama lain.

Untuk yang pertama, kita akan membahas keterkaitan antara psikologi dengan sosiologi..

Apa hubungan psikologi dengan sosiologi?

Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang perilaku hubungan antar individu, dan antar individu dan kelompok dalam perilaku social. Melihat pengertian sosiologi jelas hubungan psikologi dan sosiologi amat erat. Lalu seiring berjalannya waktu kita lebih mudah mengatakan psikologi social karena kita melihat hubungan yang erat antar kedua ilmu tsb. Namun psikolog social ternyata berbeda dengan psikologi dan sosiologi. Perbedaannya psikologi social mempelajari tingkah laku/perilaku individu untuk berinteraksi dengan lingkungannya, objeknya pada individu tersebut. Psikologi dan Sosiologi sama- sama mempelajari perilaku hubungan antar individu. Jadi psikologi sangat erat hubungannya dengan sosiologi.

Yang kedua, kita akan membahas hubungan antara psikologi dengan antropologi..

Apa hubungan psikologi dengan antropologi?

Menurut kamus Bahasa Indonesia, antropologi adalah ilmu yang mempelajari tentang asal- usul manusia, kepercayaannya, bentuk fisik, warna kulit, dan budayanya di masa silam. Karena eratnya hubungan psikologi dan antropologi sehingga muncullah sub ilmu yang salah satunya bernama anthropology in mental health, pada sub ilmu ini sangat terlihat bahwa psikologi dan antropologi saling terkait, seperti contoh bahwa penyakit jiwa tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh kelainan biologis namun juga oleh emosi atau mental yang tertekan sehingga membuat orang tersebut mengalami penyakit jiwa, keadaan jiwa manusia itu tergantung pada aspek- aspek social budaya. Disini terlihat bahwa antara psikologi dan antropologi saling terkait.

Yang ketiga, kita akan membahas hubungan psikologi dan politik.

Apa hubungan psikologi dengan politik?

Mungkin dalam pikiran kita, penuh tanda tanya… lho apa hubungannya psikologi dengan politik?

Ternyata psikologi ada hubungannya dengan psikologi dengan politik, dalam hal ini yang banyak hubungannya dengan politik adalah psikologi social, dalam hal politik psikologi berfungsi untuk memahami perilaku para pelaku politik agar dapat bersosialisasi dengan masyarakat dengan baik juga untuk memperlihatkan sikap atau respon yang diberikan oleh masyarakat sehingga pelaku politik bisa mempelajarinya agar pelaku politik dapat member yang terbaik kepada masyarakat. Sikap yang ditunjukkan oleh para masyarakat terhadap para pelaku politik inilah yang diuraikan psikologi social.

Yang keempat adalah hubungan psikologi dengan ilmu komunikasi.

Apa hubungan psikologi dengan ilmu komunikasi?

Hubungan psikologi dengan ilmu komunikasi mungkin hampir sama dengan psikologi social, karena dalam hal ini komunikasi mempelajari peristiwa social yang terjadi ketika manusia melakukan interaksi pada lingkungannya. Sehingga disini terlihat jelas bahwa erat hubungan antara psikologi dan ilmu komunikasi, yaitu pada intinya mempelajari interaksi manusia kepada lingkungannya.

Yang kelima adalah hubungan psikologi dengan biologi.

Apa hubungan psikologi dengan biologi?

Dilihat secara objeknya, psikologi mempelajari tingkah laku manusia, sedangkan biologi mempelajari tentang jasmani/fisik. Disini jasmani/fisik sangat mempengaruhi kondisi psikis/tingkah laku manusia, sebagai contoh: apabila kita sedang sakit, maka kita akan cenderung menjadi pendiam karena badan kita lemas. Jadi psikologi dengan biologi juga hubungannya erat.

Yang keenam, hubungan psikologi dengan ilmu alam

Apa hubungan psikologi dengan ilmu alam?

Kaitan psikologi dengan ilmu alam adalah pada tahun sebelumnya psikologi terbentuk sangat terpengaruh dengan ilmu alam. Namun kemudian psikologi menyadari bahwa objek pembelajarannya adalah manusia dan tingkah lakunya.

Yang ketujuh, yaitu hubungan psikologi dengan filfasat

Apa hubungannya psikologi dengan filsafat..?

Filsafat adalah hasil akal manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran yang sedalam- dalamnya. Sebenarnya psikologi adalah salah satu bagian dari filsafat. Jadi psikologi dengan filsafat hubungannya sangat erat karena psikologi merupakan bagian dari ilmu filsafat.

Yang kedelapan adalah hubungan antara psikologi dengan ilmu pendidikan

Apa hubungan psikologi dengan ilmu pendidikan?

Psikologi dan ilmu pendidikan adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Pendidikan atau proses belajar mengajar akan baik apabila seorang guru mengerti keadaan psikis setiap anak melalui respon maupun perkembangan pola pikir anak tsb.

sumber : http://edukasi.kompasiana.com/2010/11/02/apa-hubungan-psikologi-dengan-ilmu-lain/

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Perampasan Hak Psikologi

Coba kita perhatikan bersama. Jika sedang berkunjung ke took-toko buku besar, kita akan dapat dengan mudah mendapatkan buku-buku tentang psikologi, mulai dari psikologi popular, text book dan bahkan sampai bentuk-bentuk buku tes psikologi terpajang dengan rapi di rak.

Kita akan menemukan begitu banyak buku yang menyediakan cara praktis menembus psikotes, dan bahkan yang paling parah adalah buku yang menyediakan manual untuk mengetes dan menentukan sediri tingkatan IQ mereka. Sangat memprihatinkan.

dalam dunia psikologi, khususnya di Indonesia, yang memiliki hak penuh untuk melakukan pengetesan adalah psikolog, yaitu mereka yang berasal dari S1 psikologi dan melanjutkannya ke jenjang profesi di S2. Dan itulah yang membedakan psikolog dengan psikiater. Banyak orang yang salah kaprah disini karena dianggap kedua profesi itu sama. Psikiater sediri adalah seorang dari S1 kedokteran dengan spesialisasi kejiawaan dan akan bergelar SpKJ. Psikiater ini berhak memberi obat kepada kliennya sedangkan psikolog tidak. Satu hal lagi, hanya psikolog yang berwewenang melakukan pengetesan, bahkan psikiater tidak memiliki hak itu karena mereka tidak berasal dari dasar ilmu psikologi.

Tentu saja dengan penerbitan buku-buku seperti di atas tersebut telah merampas hak profesi psikolog. Bagaimana mungkin, orang awam mengetes tingkatan IQ nya sendiri hanya dengan berdasar pada buku. Bahkan seorang ilmuwan psikologi (mereka yang lulus S1 psikologi dan mereka yang mengambil S1 jurusan lain kemudian mengambil S2 psikologi) tidak memiliki wewwenang dan keterampilan untuk melakukan hal itu.

Lambang psikologi

Lambang psikologi

Jadi, tidak heran, kalau sebuah perusahaan kecewa karena setelah mengangkat karyawan, ternyata tidak sesuai dengan kriteria padahal basis perekrutan karyawan adalah dari tes psikologi. Yang disalahkan adalah tes psikologinya dan ketidakprofesionalan psikolog dalam hal ini, padahal begitu banyak buku dipasaran sana yang bisa dibeli dan dipelajari sendiri agar lolos tes tersebut.

Jadi tak heran, kalau menemukan PNS sekarang yang sering bolos, tidak disiplin dan tidak kompeten dibidangnya karena tes psikotesnya sudah bocor terlebih dahulu.

Itulah kelemahan sistem di Indonesia ini. Di Indonesia tercinta ini ada HIMPSI (Himpunan Psikologi Indonesia) yang berwewenang dalam pengaturan hak-hak profesi, pemberian izin membuka praktek sendiri dan yang berwewenang member sanksi bagi para pelanggar.

Tapi, perannya sama sekali tumpul. HIMPSI sama sekali tidak memiliki kuasa atas semua perampasan ini. Sangat mengecewakan. Jadi tak heran kalau berdiri lembaga-lembaga gentanyangan yang menyediakan jasa pengetesan tanpa surat izin resmi dengan mengatas namakan psikologi. Dan yang paling parah, mereka membuka les-les privat untuk bisa lolos tes psikologi untuk berbagai seleksi penerimaan karyawan baru.

logo HIMPSI

logo HIMPSI

Sedangkan untuk pelanggaran terhadap ketentuan ini, tidak ada sanksi tegas dari HIMPSI. Yang paling berat adalah pencopotan surat izin praktek, dan tidak ada peraturan yang secara tegas menyebutkan bahwa para pelanggar bisa dibawa ke meja hukum. Tak heran kalau lembaga-lembaga ini bertumbuh dengan suburnya bak jamur dimusim hujan.

Tes-tes psikologi itu sifatnya sangat rapuh dan sensitif, jadi sekali bocor, maka hasilnya dizamin tidak akan valid 100 % lagi. Tetapi dengan rapuhnya penggawasan ditambah lemahnya sistem di Indonesia, maka kebocoran data-data rahasia ini sudah menjadi rahasia umum. Sangat disayangkan

sumber : http://kesehatan.kompasiana.com/kejiwaan/2010/09/24/perampasan-hak-psikologi/

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Konsep Psikologi


Di masa era informasi dan komunikasi global seperti saat ini, jarang orang mengaku bahwa dirinya tidak mengenal psikologi. Sebenarnya apa si psikologi itu………?????

Psikologi mengandung kata psyche yang dalam bahasa yunani berarti jiwa dan kata logos dapat diterjemahkan dengan kata ilmu. Jadi,psikologi adalah ilmu jiwa. Namun ilmu jiwa itu belum tentu psikologi,akan tetapi psikologi tentu merupakan ilmu jiwa. Dan jiwa itu mengandung arti yang abstrak,maka dari itu sangatlah sulit untuk mengenal jiwa manusia yang sifatnya abstrak. Dan hanya dengan cara mengobservasi perilakunya lah yang dapat di lakukan. Jadi,psikologi merupakan ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dalam berinteraksi dengan lingkungannya.

Adapun Hubungan Psikologi Dengan Ilmu-ilmu laen…. Dimana antara psikologi dan ilmu-ilmu laen itu tidak luput halnya adalah saling memerlukan.

I. Hubungan psikologi dengan sosiologi. Betapa besarnya pengaruh dari pendekatan secara psikologis,ini ditunjukan bahwa gejala sosial mempunyai sifat psikologis yang terdiri atas kepercayaan-kepercayaan dan keinginan,juga menjelaskan gejala-gejala sosial dalam kerangka reaksi-reaksi psikis dari orang.

2. Hubungan psikologi dengan antropologi. Ditunjukan dengan munculnya cabang baru dari antropology yang disebut antropology in mental health. Dimana anthropology in mental health ini memfokuskan pada emosi-emosi yang tertekan.

3. Hubungan psikologi dengan ilmu politik. Psikologi merupakan ilmu yang mempunyai peran penting dalam bidang politik,terutama yang dinamakan dengan “massa psikologi”.

4. Hubungan psikologi dengan ilmu komunikasi. Komunikasi itu sifatnya efektif,psikologi komunikasi dasini yaitu ilmu yang mempelajari menganai peristiwa mental dan behavioral dalam komunikasi.

5. Hubungan psikologi dengan biologi. Sampai manakah hubungan psikologi dengan biologi……..???? Jika dilihat dari obyek materialnya sama,antara psikologi dan biologi yaitu sama-sama mempelajari kehidupan jasmaniah manusia dan hewan.

6. Hubungan psikologi dengan ilmu alam. Dalam penelitianya,psikologi terpengaruh oleh ilmu alam,dan psikologi disusun atas dasar eksperimen.Namun psikologi sadar bahwa obyek penyelidikanya adalah manusia dan tingkah lakunya yang hidup dan selalu berkembang. Sedangkan ilmu alam adalah benda mati,jadi metode ilmu alam yang diharapkan dalam psikologi kurang tepat.

7. Hubungan psikologi dengan filsafat. Filsafat memerlukan data dari ilmu untuk mencari dan memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya. Jika ahli filsafat manusia hendak menyelidiki manusia,maka harus mengetahui gejala tindakan manusia.

8. Hubungan psikologi dengan ilmu pendidikan. Psikologi dengan ilmu pendidikan mempunyai hubungan timbal balik. Ilmu pendidikan bertujuan memberikan bimbingan hidup manusia sejak ia lahir sampai mati.Dan pendidikan tidak akan berhasil bila tidak berdasarkan kepada psikologi perkembangan.

SEJARAH PSIKOLOGI DAN PSIKOLOGI SEBAGAI ILMU OTONOM

Psikologi adalah ilmu yang tergolong muda. Tetapi orang disepanjang sejarah telah memperhatikan masalah psikologi. Seperti filsuf yunani terutama plato dan aristoteles.Karena pada saat itu psikologi masih dipengaruhi oleh cara-cara berfikir filsafat dan terpengaruh oleh filsafatnya sendiri,karena para ahli psikologi pada masa itu adalah ahli-ahli filsafat. Dan pada waktu itu psikologi masih berbentuk wacana belum menjadi ilmu pengetahuan. Sampai abad pertengahan pun psikologi masih merupakan bagian dari filsafat,sebagai obyeknya terhada hakikat jiwa.

Di dalamnya ilmu psikologi adalah ilmu pengetahuan. Dan untuk menjadi ilmu pengetahuan yang otonom(berdiri sendiri) artinya tidak terpengaruh oleh ilmu lain atau para ahli filsafat,maka pengetahuan itu harus memenuhi syarat sekurang-kurangnya,yaitu: mempunyai obyek dan pembahasan obyek,mempunyai metode,mempunyai sistem,mempunyai sifat universal,dan dapat dibuktikan.

ALIRAN-ALIRAN PSIKOLOGI

Aliran Strukturalisme. Stuktur adalah sistem tranformasi yang mengandung kaidah sebagai sistem dan yang melindungi diri atau memperkaya diri melalui peran tranformasi-tranformasinya,tanpa keluar dari batas0batasnya atau menyebabkan masuknya unsur-unsur luar. Ada 3 sifat yang tercakup dalam sebuah struktur,yaitu: totalitas,tranformasi,dan pengaturan diri.

Aliran Fungsionalisme. Fungsionalisme adalah suatu tendensi dalam psikologi yang menyatakan bahwa pikiran,proses mental,presepsi indrawi,dan emosi adalah adaptasi organisme biologis.

Aliran Psikoanalisis. Lahirnya aliran ini di dalam dunia psikologi yaitu sering dianalogikan dengan revolusi convernican dalam natural science: dicaci,ditolak,tapi pada akhirnya diagungkan.

Aliran Psikologi Gestalt.Untuk menerjemahkan istilah gestalt ke dalam bahasa lain memang tidaklah mudah. Kata gestalt berasal dari bahasa Jerman,yang dalam bahasa inggris berarti form,shape,configuration,whole. Dan adlam bahasa indonesia yang berarti bentuk,konfigurasi,hal,peristiwa,pola,totalitas,atau bentuk keseluruhan.

Aliran Behaviorisme. Behaviorisme adalah sebuah aliran dalam psikologi yang didirikan John B. Watson pada tahun 1913. Aliran ini sama halnya dengan psikoanalisis,behaviorisme juga merupakan aliran yang revolusioner,kuat,dan berpengaruh,serta memiliki akar sejarah yang cukup dalam

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS